Kamis, 05 Juli 2012

                               Aktivitas Antibakteri pada Genus Piper

     Genus piperaceae mempunyai banyak manfaat, diantaranya sebagai antibakteri, antioksidan dan antimikroba. Dalam ulasan jurnal ini akan membahas aktivitas antibakteri dari Genus Piperaceae yang terdiri dari banyak spesies. Secara kemotaksonomi, tanaman familia Piperaceae banyak mengandung senyawa golongan alkaloida dan minyak atsiri. Beberapa tanaman obat familia Piperaceae, seperti Merica/Lada (Piper nigrum), Kemukus (Piper cubeba), Cabe (Piper retrofractum) dan Sirih (Piper betle) tumbuh di Indonesia dan digunakan sebagai obat tradisional untuk tujuan terapi terkait infeksi atau radang (inflamasi), terkait sistem imun (daya tahan tubuh). Tujuan terapi tersebut termasuk golongan prevensi, imunomudulasi, kausal dan adaptogen, yang erat hubungannya dengan berlebihannya radikal bebas dalam tubuh. Bahkan kalau dikaitkan dengan struktur zat kandungannya, seperti amina sekunder (alkaloida piperin), minyak atsiri dan polifenol, maka dimungkinkan dapat melalui mekanisme aktivitas antiradikal bebas atau penangkapan radikal bebas. Sifat tersebut sangat erat korelasinya dengan berbagai mekanisme kerja bioaktivitas kelompok prevensi, simptomatik dan bahkan kausal. Piperin dan senyawa amida fenol lainnya dari Merica dan Cabe Jawa dilaporkan mempunyai bioaktivitas antihepatotoksik dan antioksidan. Jika ditinjau dari etnomedisin, yaitu kemanfaatannya (tujuan terapinya) sebagai produk obat tradisional/jamu simplisia tanaman Piperaceae dapat dikaitkan dengan sifat antioksidan atau antiradikal bebas. Keterkaitan antara patogenesis, mekanisme kerja obat dan struktur kimia dapat menjadi landasan penelitian untuk menguji aktivitas antiradikal bebas ekstrak simplisia tanaman obat familia Piperaceae. Radikal bebas terbentuk normal dalam sistem biologis sebagai kondisi fisiologi fungsi fagositosis, metabolisme asam arakidonat dan fungsi terkait faktor relaksasi endotelia (NO). Kondisi patologis dan toksisitas berkaitan dengan reaksi radikal bebas berimplikasi terhadap banyak penyakit. Walaupun ada mekanisme antioksidan normal tubuh, namun bidang penemuan obat untuk penangkal radikal bebas tetap berlanjut, termasuk dari sumber bahan alam terutama dari tanaman. Skrining zat aktif penangkap radikal bebas dapat menggunakan berbagai model pengujian mulai dari tingkat hewan coba sampai seluler-molekuler dan bahwa simulasi model reaksi kimia. Pengujian antiradikal bebas DPPH sebagai percobaan awal in vitro kimiawi diharapkan sebagai awal penulusuran aktivitas, dan hasil penelitian dapat menjadi data ilmiah untuk kelanjutan mengungkap berbagai bioaktivitas dalam penelitian dan pengembangannya sebagai fitofarmaka.
(Dr. Wahjo Dyatmiko, 2000).   
     Sirih termasuk tanaman dari suku piperaceae yang merambat dan bersandar pada batang pohon lain (Duryatmo 2005). Sirih mengandung kavibetol dan kavikol yang sifat antiseptiknya lima kali lebih efektif dibandingkan dengan fenol biasa. Selain sebagai antiseptik, sirih juga dapat digunakan untuk mengobati sakit mata, eksim, bau mulut, pendarahan gusi, mimisan, sariawan, luka, sakit gigi, dan menjaga kesehatan alat kelamin wanita Mursito 2002). Sirih merah (Piper crocatum) (Gambar 1) merupakan salah satu jenis sirih yang banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias pada tahun 1900-an. Namun sekarang mengalami perubahan fungsi menjadi tanaman obat sejak dikenalkan oleh Bambang Sudewo, seorang produsen tanaman obat di Blunyahrejo (Duryatmo 2005). Beberapa penyakit yang bisa disembuhkan dengan sirih merah adalah hipertensi, leukemia, diabetes melitus, batu ginjal, radang prostat, jantung koroner, ambien, asam urat, dan hepatitis. Klasifikasi lengkap dari tanaman sirih merah ini adalah sebagai berikut : Divisi Spermatophyta, Subdivisi Angiospermae, Kelas Monochlamydeae, Bangsa Piperales, Suku Piperaceae, Genus Piper dan Jenis Piper crocatum. Sirih merah tumbuh menjalar seperti sirih hijau, batangnya bersulur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm dengan setiap buku tumbuh bakal akar. Daunnya bertangkai membentuk jantung dengan bagian atas meruncing, bertepi rata, mengkilap atau tidak berbulu, dan mempunyai warna yang khas yaitu permukaan atas hijau gelap berpadu dengan ulang daun berwarna merah hati keunguan. Daun berasa pahit, berlendir, serta mempunyai bau yang khas seperti sirih (Sudewo 2005).
     Sirih ( Piper bettle), diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi Spermatophyta, Subdivisi Angiospermae, Kelas Dichlamydeae, Bangsa Piperales, Suku Piperaceae, Genus Piper dan Jenis Piper bettle (Hutapea, 1997). Penggunaan  secara tradisional biasanya dengan merebus daun sirih kemudian air rebusan digunakan untuk kumur atau membersihkan bagian tubuh lain, atau daun sirih dilumatkan kemudian ditempelkan pada luka (Mardisiswojo, 1985, Anonim, 1981). Bahan antiseptik yang digunakan dalam formula sediaan adalah dari golongan alkohol (etanol, propanol, isopropanol) dengan konsentrasi ± 50% sampai 70% dan jenis disinfektan yang lain seperti : klorheksidin, triklosan (Block, 2001 dan Gennaro, 1995). Alkohol banyak digunakan sebagai antiseptik/desinfektan untuk disinfeksi permukaan dan kulit yang bersih, tetapi tidak untuk luka. Alkohol sebagai disinfektan mempunyai aktivitas bakterisidal,bekerja terhadap berbagai jenis bakteri, tetapi tidak terhadap virus dan jamur. Akan tetapi karena merupakan pelarut organik maka alkohol dapat melarutkan lapisan lemak dan sebum pada kulit, dimana lapisan tersebut berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi mikroorganisme (Dryer, 1998, Jones, 2000, Snyder, 1999) Disamping itu alkohol mudah terbakar dan pada pemakaian berulang menyebabkan kekeringan dan iritasi pada kulit. Golongan fenol yang digunakan dalam sediaan antiseptik tangan adalah triklosan. Keuntungan triklosan dibandingkan fenol adalah kurang korosif. Kadar triklosan yang digunakan sebagai antiseptik adalah 0,05% sampai dengan 2% (Block, 2001).Spesies Piper memiliki distribusi pantropical dan sering ditemukan di dataran rendah misalnya di hutan hujan tropis juga dapat ditemukan di dataran yang agak tinggi. Spesies Piper umumnya tumbuh merambat atau sebagai tumbuhan herba.


DAFTAR PUSTAKA

Dr. Wahjo Dyatmiko . 2000. Pengujian antiradikal bebas difenilpikrilhidrazil (dpph) ekstrak etanol beberapa tanaman piperaceae. http://www.lppm.unair.ac.id/search.view.php?id=766&c=2
Farida Juliantina R, dkk. Manfaat sirih merah (piper crocatum) sebagai agen anti bakterial terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia.
Isadiartuti, Retno Sari dan Dewi. 2006. Antiseptic activity evaluation of piper leave from Piper betle Linn extract in hand gel antiseptic preparation. Majalah Farmasi 164 Indonesia, 17(4) : 164-169.
Marlina, Paramitha Wirdani ningsih. 2008. Konsentrasi flavonoid dan lethal Concentration 50 (lc50) ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum). Jurnal Ilmiah.
http://balittro.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=77:sirih-merah-sebagai-tanaman-obat-multi-fungsi&catid=1:latest.
http://en.wikipedia.org/wiki/Piper_%28genus%29.