RESUME JURNAL FARMASETIKA SEDIAAN
LIKUID
Evaluasi Mucilago Abelmoschus Esculentus sebagai Suspending Agent di Suspensi Parasetamol
Oleh :
Dewi Gayatri W.
102210101057
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
JEMBER
2012
Suspensi merupakan sistem heterogen
yang terdiri dari dua fase. Fase kontinu atau fase luar umumnya merupakaan
cairan atau semipadat, dan fase terdispers atau fase dalam terbuat dari
partikel-partikel kecil yang pada dasarnya tidak larut tetapi terdispersi
seluruhnya dalam fase kontinu: zat yang tidak larut bisa dimaksudkan untuk
absorpsi fisiologis atau untuk fungsi pelapisan dalam dan luar.Fase terdispers
bisa terdiri dari partikel-partikel diskret atau bisa merupakan suatu jaringan
sistem suspensi memisah pada pendiaman. Komposisi dari suspensi antara lain
obat dan agent pembasah obat, pengaruh flokulasi, viskositas, penambahan pH dan
fase dalam (air). Tambahan lainnya seperti perasa, pemanis dan pewarna.
Dalam sediaan suspensi,
sistem dispersinya bersifat tidak stabil sehingga diperlukan suspending agent
untuk stabilizer yang mengurangi tingkat dispersi dan mempermudah terdispersi
kembali dari setiap partikel. Contoh suspending agent yaitu bahan anorganik, senyawa
sintetik atau polisakarida. Gum alam seperti Akasia, Tragacanth, Khaya, Karaya
dan Abelmoschus esculentus. Gum banyak digunakan sebagai pengikat tablet,
emulgents dan pengental dalam kosmetik dan suspensi sebagai pembentuk agen film
dan koloid transisi. Ada penelitian tentang keberhasilan penggunaan Ocimum
gratissimum, Butea monospermama, Albizia Zygia gum dan Leucaena
leucocephalaseedc sebagai zat pensuspensi. Gum dari Abelmoschus esculentus diketahui
memiliki potensi untuk pengikat formulasi tablet. Buah segar dari Abelmoschus
esculentus (L.) merupakan komponen umum dari diet orang India. Selain itu, juga
digunakan pengobatan untuk beberapa penyakit. Seperti anti-kanker, anti-mikroba dan hipoglikemik. Aktivitas
anti-ulkus dari buah-buahan segar diketahui sebagai bahan pengikat pada formulasi
tablet pada natrium salisilat, obat ini sangat larut air yang tidak lagi dipakai
dalam terapi. Hasilnya merupakan ekstrak buah dan diselidiki sifat farmasinya
untuk menilai kesesuaian sebagai suspending agent dalam formulasi farmasi. Kemampuan
pensuspensi dan penstabil suspensi yang digunakan sebagai dasar untuk
mengevaluasi kinerja gum Abelmoschus esculentus sebagai suspending agent. Mucilago yang diekstrak dari
Abelmoschus esculentusis tidak beracun, memiliki potensi sebagai
suspending agent bahkan pada konsentrasi yang lebih rendah (4% b/v) dan dapat
digunakan sebagai adjuvan farmasi. Dalam sifat ini mucilago Abelmoschus
esculentus dapat digunakan sebagai stabilizer
dan pengental pilihan ketika viskositas tinggi terutama dalam kosmetik,
farmasi dan makanan industri. Sifat pengikat dalam tablet sedang diteliti.
Sebagai pengujiannya
digunakan Parasetamol, Gum tragakan, natrium CMC.
Pelarut lain yang
digunakan sesuai dengan yang tertera pada Farmakope.
Buah segar Abelmoschus esculentus dipilih karena mengandung lebih banyak mucilago dibandingkan dengan
buah yang matang. Ekstraksi getah pada buah ± 2 kg
Abelmoschus esculentus. Setelah biji dibersihkan kemudian diiris dan diekstraksi dengan air dingin mengandung 1%
(b/v) natrium metabisulphate.
Getah minyak disentrifugasi pada 3000
rpm selama 5 menit
dan diendapkan dengan
aseton lalu dikeringkan dalam
desikator. Kemudian diperoleh serbuk berwarna coklat
terang setelah dikeringkan. Serbuk gum dikeringkan menggunakan end running mill dan
disaring dengan saringan 0,25 mm stainless steel.
Dan disimpan dalam botol yang ditutup rapat. Untuk pengujian
fitokimia dilakukan tes awal untuk mengetahui sifat mucilago yang
diperoleh. Tes kimia yang dilakukan adalah
uji Rutenium merah, Molisch, uji untuk mengurangi
gula dan uji Ninhidrin.
Studi toksisitas
dilakukan sesuai dengan metode Knudsen dan Curtis17.
Menggunakan tikus jantan albino Wistar
dengan berat 160-200 gram dibagi dalam beberapa kelompok yang berbeda terdiri dari
enam hewan. Kelompok
kontrol menerima 20ml/kg i.p. Kelompok lainnya menerima 500, 1000, 2000, 3000
dan 4000 mg/kg suspensi gum secara per oral. Hewan diamati perubahannya untuk
4 jam pertama
dan kemudian diamati jika terjadi kematian selama 48 jam. Di studi
toksisitas kronis, 12 hewan yang digunakan,
dibagi dalam untuk dua kelompok, 6 sebagai
kontrol dan 16 sebagai hewan uji. Dalam
kelompok uji dosis 250 mg/kg diberikan
setiap hari untuk jangka waktu 30 d. Berat badan
dicatat pada interval 10d. Parameter hematologi
juga diamati dalam kelompok.
Untuk
membuat suspensi parasetamol, serbuk tragakan (1,0 g) dan
10 g parasetamol ditriturasi dengan 20 ml sirup raspberry untuk membentuk pasta halus. Larutan asam
Benzoic (2 ml) dan 1ml larutan bayam ditambahkan
secara bertahap dengan pengadukan konstan dan dicampur
dengan 50 ml kloroform. Campuran itu ditpindah ke dalam botol 100 ml, ditambah air suling dan
kemudian dikocok kuat selama 2 menit (sehingga dibuat 1,0% b/v gum). Prosedur
ini diulang menggunakan 2.0, 3.0 dan 4,0% b/v
serbuk tragakan. Prosedur di atas diulang dengan
natrium CMC dan mucilago Abelmoschus esculentus. Untuk
menentukan tingkat flokulasi, suspensi flokulasi
dibuat menggunakan potasium dihidrogenfosfat (0.004
mol) sebagai flocculating agent.
Tingkat pemisahan suspensi dilakukan
dengan menambahkan 50 ml dari masing-masing suspensi
dalam gelas ukur tertutup dan disimpan pada suhu kamar. Pemisahan cairan itu dicatat
pada interval 5 d hingga 45 d. Volume sedimentasi F
(%),dihitung menggunakan persamaan berikut F = 100Vu/Vo
Dimana
Vu adalah volume akhir dari sedimen dan Vo adalah volume awal dari suspensi.
Tingkat flokulasi ditentukan
dengan persamaan β = F/Fα, di mana F adalah sedimentasi
volume suspensi flocculated dan Fα adalah volume
sedimentasi suspensi deflocculated. Volume suspensi masing-masing (50 ml) pada
tabung yang disimpan pada suhu kamar untuk berbagai
interval waktu (5d, 10..45 d). Pada interval 5 d, satu tabung diambil dan dikocok
keras untuk mendistribusikan sedimen jika ada dicatat.
Perilaku reologi dari suspensi dibuat
dengan gum tragakan, natrium CMC dan mucilago Abelmoschus
esculentus diuji menggunakan viskometer Brookfield synchroelectric, spindle nomor 1 viskositas tipe bergigi dengan kecepatan
berkisar 0,3-0,6 rpm. Pembacaan kurva atas dan
bawah diamati dan percobaan diulang tiga kali lalu laju geservdihitung.
Hasilnya dicatat dan rheogram yang diperoleh dari
tingkat plotting geser G / sec vs F gaya geser,
Dyne / cm2. Setelah dikocok, 10 ml sampel masing-masing secara
terpisah dipindah ke dalam gelas ukur 200 ml. Tambahkan air suling (150 ml),
campur, dan 10 ml alikuot tercampur pada jarak 10 cm di bawah permukaan
campuran dan pada 1, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit. Lalu diuapkan basah dan
diuapkan kering dalam oven pada 105oC dan residu ditimbang. Diameter
partikel (d dalam cm) kemudian dihitung dengan menggunakan persamaan Stokes.
pH dari
masing-masing suspensi diukur menggunakan pH meter (Systronics pH meter
digital. Sr.No.272, μ pH sistem 361), pada interval mingguan untuk 4w. untuk
kemudahan redispersibility, 10 ml suspensi masing-masing dituangkan ke dalam
empat tabung kalibrasi, disimpan di suhu kamar untuk 1,2,3 dan 4 w. pada akhir
setiap periode penyimpanan, setiap tabung kocok konstan 30 kocokan/min. waktu
(s) redisperse suspensi yang mengendap dicatat. Jumlah kocokan diperlukan untuk
pengamatan dispersi sedimen dari dasar tabung. Sampel diamati homogenitasnya
dari suspensi dan total waktu (s) dicatat untuk redisperse suspensi yang
mengendap.
Tes Fitokimia yang dilakukan pada mucilago Abelmoschus esculentus
menegaskan tidak adanya alkaloid, glikosida dan tanin.
Pada mucilago dengan ruthenium merah, menunjukkan
warna merah menunjukkan sebagai mucilago. Reagen Molisch
menunjukkan adanya karbohidrat. Mucilago tidak bisa
mereduksi larutan Fehling, sehingga terdeksi adanya gula. Larutan Fehling setelah hidrolisa selama 1 jam dengan
terkonsentrasi asam sulfat. Mucilago pada pereaksi ninhidrin tidak memberikan warna ungu menunjukkan tidak adanya asam amino. Untuk menentukan tingkat
keamanan ekstrak mucilago Abelmoschus esculentus, dilakukan
studi toksisitas akut dan toksisitas kronis. Dalam studi toksisitas memperlihatkan
tidak ada perubahan perilaku untuk empat jam pertama
dan kematian, tidak ada sindrom beracun bahkan pada dosis berat badan 4000mg/kg
tubuh setelah 24 jam menunjukkan keamanan gum.
Untuk menilai kesesuaian gum dicatat profil berat
badan untuk hewan selama kronis toksisitas secara
berkala dari 10 d dari berat badan dari kedua hewan uji dan kontrol. Oleh
karena itu disimpulkan bahwa pemberian gum mungkin
tidak berpengaruh baik dari asupan makanan atau
pertumbuhan. Parameter hematologi yang ditentukan
pada akhir 30 juga ditemukan sebanding dengan tikus kontrol. Konsentrasi zat pensuspensi di
dosis konvensional dari biasanya tidak melebihi 2% dari formulasi, kira-kira 5-10 mg/kg
dosis. Oleh karena eksipien tidak mungkin memberikan efek toksik pada tubuh. Hal ini bahwa
pensuspensi lebih rendah laju sedimentasinya. Untuk mengevaluasi sifat
suspending agent, suspensi dengan konsentrasi parasetamol tetap namun konsentrasi bervariasi dari mucilago (1,0 sampai 4,0% b/v) serta suspending
agent alami seperti tragakan dan natrium CMC. Mucilago
Abelmoschus esculentus menunjukkan hasil yang sebanding dengan natrium CMC. Sedimen partikel tersebar pada
tingkat yang lebih cepat di suspensi yang
mengandung 1% dan 2% b/v suspending agent dan sedimentasi awal selama 20 hari
pertama jauh lebih cepat daripada sesudahnya.
Suspensi dengan zat pensuspensi 3% menunjukkan
konstanta penurunan volume sedimentasi sampai 20
hari sedangkan penurunan itu diminimalkan setelah 25 hari. Namun suspensi dengan zat pensuspensi 4% perubahan volume
sedimentasi minimum selama 45 hari penelitian. Menurut Martin dkk.
volume sedimentasi hanya
flokulasi kualitatif. Derajat flokulasi
(β) adalah parameter yang digunakan, merupakan rasio volume sedimentasi
tertinggi dalam sistem flokulasi dan deflokulasi. Perbandingan nilai β (Tabel 4) dari suspensi dengan mucilago Abelmoschus esculentus,
tragakan dan natrium CMC menunjukkan nilai yang lebih tinggi sedikit di 3 dan
4% b/v untuk musilago Abelmoschus esculentus dan tragakan. Pengamatan ini
menunjukkan bahwa Abelmoschus esculentus adalah suspending
agent yang lebih baik daripada Sodium CMC. Karena suspensi menghasilkan
sedimen pada penyimpanan harus mudah terdispersi
sehingga menjamin keseragaman dosis.Suspensi dengan
1 dan 2% b/v tragacanth telah terbukti berlapis setelah 25 dan 35 hari masing. Menunjukkan efektivitas sebagai suspending agent pada konsentrasi
ini. Reologi dari suspensi dengan Abelmoschus esculentus, gum tragakan dan
natrium CMC menunjukkan bahwa suspensi yang pseudoplastik dan viskositas turun
dengan peningkatan laju geser. Perubahan pH suspensi berbeda dengan persentase Abelmoschus
esculentus, natrium CMC dan gum tragacanth dicatat
setelah 24 dan mingguan hingga 4 w penyimpanan pada suhu kamar. PH dari suspensi yang dibuat dengan Abelmoschus esculentus dan gum tragakan berkisar 4,50-5,25 dan 4,10-4,45
masing-masing konsentrasi tingkat bawah pertimbangan(4% b/v),sehingga menunjukkan
sifat asam dari suspensi. Variasi pH suspensi dengan Abelmoschus esculentus lebih tinggi dibandingkan dengan suspensi dengan
tragakan. Perubahan pH mungkin karena hidrolisis atau dekomposisi mikroba. Dekomposisi
mikroba dari suspensi dengan Abelmoschus
esculentus tampaknya lebih layak diberikan karakter netral.Suspensi juga dinilai berdasarkan viskositas, laju
alir dan analisis ukuran partikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viskositas
dan ukuran partikel berbanding lurus dengan
konsentrasi suspending agent. Semua
formulasi yang diamati sesuai hukum Stoke ketika mengalami analisis ukuran
partikel.
Daftar
Pustaka
·
Carstensen, Jens T, Rhodes,CT. 2000. Drug Stability Principles and Practices.
New York : Marcel Dekker.
·
Gennaro, Alfonso R. 2000. Remington The Sciences and Practice of
Pharmacy. Philadelpia : University of
The Science.
·
Kumar, Ravi dkk. 2009. Evaluation of Disintegrating Properties of Abelmoschus esculentus Mucilage.
USA : Int J Pharm Tech, Vol.1, No.2, pp 241-246
·
Lachman, Leon, Herbert A. Lieberman,
Joseph L.Kanig.1994. Teori dan Praktek
Farmasi Industri. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
·
Martin, A. 2001. Physical
Pharmacy. 4th Edn. Lippincott William an Wilkins, Baltimore, USA, pp.
480-481.