Rabu, 12 Desember 2012

Resume jurnal Ilmiah




RESUME JURNAL FARMASETIKA SEDIAAN LIKUID
Evaluasi Mucilago Abelmoschus Esculentus sebagai Suspending Agent di Suspensi Parasetamol


Oleh :
Dewi Gayatri W.
102210101057



FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2012



 
            Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase. Fase kontinu atau fase luar umumnya merupakaan cairan atau semipadat, dan fase terdispers atau fase dalam terbuat dari partikel-partikel kecil yang pada dasarnya tidak larut tetapi terdispersi seluruhnya dalam fase kontinu: zat yang tidak larut bisa dimaksudkan untuk absorpsi fisiologis atau untuk fungsi pelapisan dalam dan luar.Fase terdispers bisa terdiri dari partikel-partikel diskret atau bisa merupakan suatu jaringan sistem suspensi memisah pada pendiaman. Komposisi dari suspensi antara lain obat dan agent pembasah obat, pengaruh flokulasi, viskositas, penambahan pH dan fase dalam (air). Tambahan lainnya seperti perasa, pemanis dan pewarna.
Dalam sediaan suspensi, sistem dispersinya bersifat tidak stabil sehingga diperlukan suspending agent untuk stabilizer yang mengurangi tingkat dispersi dan mempermudah terdispersi kembali dari setiap partikel. Contoh suspending agent yaitu bahan anorganik, senyawa sintetik atau polisakarida. Gum alam seperti Akasia, Tragacanth, Khaya, Karaya dan Abelmoschus esculentus. Gum banyak digunakan sebagai pengikat tablet, emulgents dan pengental dalam kosmetik dan suspensi sebagai pembentuk agen film dan koloid transisi. Ada penelitian tentang keberhasilan penggunaan Ocimum gratissimum, Butea monospermama, Albizia Zygia gum dan Leucaena leucocephalaseedc sebagai zat pensuspensi. Gum dari Abelmoschus esculentus diketahui memiliki potensi untuk pengikat formulasi tablet. Buah segar dari Abelmoschus esculentus (L.) merupakan komponen umum dari diet orang India. Selain itu, juga digunakan pengobatan untuk beberapa penyakit. Seperti  anti-kanker, anti-mikroba dan hipoglikemik. Aktivitas anti-ulkus dari buah-buahan segar diketahui sebagai bahan pengikat pada formulasi tablet pada natrium salisilat, obat ini sangat larut air yang tidak lagi dipakai dalam terapi. Hasilnya merupakan ekstrak buah dan diselidiki sifat farmasinya untuk menilai kesesuaian sebagai suspending agent dalam formulasi farmasi. Kemampuan pensuspensi dan penstabil suspensi yang digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi kinerja gum Abelmoschus esculentus sebagai suspending agent. Mucilago yang diekstrak dari Abelmoschus esculentusis tidak beracun, memiliki potensi sebagai suspending agent bahkan pada konsentrasi yang lebih rendah (4% b/v) dan dapat digunakan sebagai adjuvan farmasi. Dalam sifat ini mucilago Abelmoschus esculentus dapat digunakan sebagai stabilizer dan pengental pilihan ketika viskositas tinggi terutama dalam kosmetik, farmasi dan makanan industri. Sifat pengikat dalam tablet sedang diteliti.
Sebagai pengujiannya digunakan Parasetamol, Gum tragakan, natrium CMC. Pelarut lain yang digunakan sesuai dengan yang tertera pada Farmakope. Buah segar Abelmoschus esculentus dipilih karena mengandung lebih banyak mucilago dibandingkan dengan buah yang matang. Ekstraksi getah pada buah ± 2 kg Abelmoschus esculentus. Setelah biji dibersihkan kemudian diiris dan diekstraksi dengan air dingin mengandung 1% (b/v) natrium metabisulphate. Getah minyak disentrifugasi pada 3000 rpm selama 5 menit dan diendapkan dengan aseton lalu dikeringkan dalam desikator. Kemudian diperoleh serbuk berwarna coklat terang setelah dikeringkan. Serbuk gum dikeringkan menggunakan end running mill dan disaring dengan saringan 0,25 mm stainless steel. Dan disimpan dalam botol yang ditutup rapat. Untuk pengujian fitokimia dilakukan tes awal untuk mengetahui sifat mucilago yang diperoleh. Tes kimia yang dilakukan adalah uji Rutenium merah, Molisch, uji untuk mengurangi gula dan uji Ninhidrin.
Studi toksisitas dilakukan sesuai dengan metode Knudsen dan Curtis17. Menggunakan tikus jantan albino Wistar dengan berat 160-200 gram dibagi dalam beberapa kelompok yang berbeda terdiri dari enam hewan. Kelompok kontrol menerima 20ml/kg i.p. Kelompok lainnya menerima 500, 1000, 2000, 3000 dan 4000 mg/kg suspensi gum secara per oral. Hewan diamati perubahannya untuk 4 jam pertama dan kemudian diamati jika terjadi kematian selama 48 jam. Di studi toksisitas kronis, 12 hewan yang digunakan, dibagi dalam untuk dua kelompok, 6 sebagai kontrol dan 16 sebagai hewan uji. Dalam kelompok uji dosis 250 mg/kg diberikan setiap hari untuk jangka waktu 30 d. Berat badan dicatat pada interval 10d. Parameter hematologi juga diamati dalam kelompok.
Untuk membuat suspensi parasetamol, serbuk tragakan (1,0 g) dan 10 g parasetamol ditriturasi dengan 20 ml sirup raspberry untuk membentuk pasta halus. Larutan asam Benzoic (2 ml) dan 1ml larutan bayam ditambahkan secara bertahap dengan pengadukan konstan dan dicampur dengan 50 ml kloroform. Campuran itu ditpindah ke dalam botol 100 ml, ditambah air suling dan kemudian dikocok kuat selama 2 menit (sehingga dibuat 1,0% b/v gum). Prosedur ini diulang menggunakan 2.0, 3.0 dan 4,0% b/v serbuk tragakan. Prosedur di atas diulang dengan natrium CMC dan mucilago Abelmoschus esculentus. Untuk menentukan tingkat flokulasi, suspensi flokulasi dibuat menggunakan potasium dihidrogenfosfat (0.004 mol) sebagai flocculating agent.
Tingkat pemisahan suspensi dilakukan dengan menambahkan 50 ml dari masing-masing suspensi dalam gelas ukur tertutup dan disimpan pada suhu kamar. Pemisahan cairan itu dicatat pada interval 5 d hingga 45 d. Volume sedimentasi F (%),dihitung menggunakan persamaan berikut   F = 100Vu/Vo
Dimana Vu adalah volume akhir dari sedimen dan Vo adalah volume awal dari suspensi.
Tingkat flokulasi ditentukan dengan persamaan β = F/Fα, di mana F adalah sedimentasi volume suspensi flocculated dan Fα adalah volume sedimentasi suspensi deflocculated. Volume suspensi masing-masing (50 ml) pada tabung yang disimpan pada suhu kamar untuk berbagai interval waktu (5d, 10..45 d). Pada interval 5 d, satu tabung diambil dan dikocok keras untuk mendistribusikan sedimen  jika ada dicatat.
Perilaku reologi dari suspensi dibuat dengan gum tragakan, natrium CMC dan mucilago Abelmoschus esculentus diuji menggunakan viskometer Brookfield synchroelectric, spindle nomor 1 viskositas tipe bergigi dengan kecepatan berkisar 0,3-0,6 rpm. Pembacaan kurva atas dan bawah diamati dan percobaan diulang tiga kali lalu laju geservdihitung. Hasilnya dicatat dan rheogram yang diperoleh dari tingkat plotting geser G / sec vs F gaya geser, Dyne / cm2. Setelah dikocok, 10 ml sampel masing-masing secara terpisah dipindah ke dalam gelas ukur 200 ml. Tambahkan air suling (150 ml), campur, dan 10 ml alikuot tercampur pada jarak 10 cm di bawah permukaan campuran dan pada 1, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit. Lalu diuapkan basah dan diuapkan kering dalam oven pada 105oC dan residu ditimbang. Diameter partikel (d dalam cm) kemudian dihitung dengan menggunakan persamaan Stokes. pH dari masing-masing suspensi diukur menggunakan pH meter (Systronics pH meter digital. Sr.No.272, μ pH sistem 361), pada interval mingguan untuk 4w. untuk kemudahan redispersibility, 10 ml suspensi masing-masing dituangkan ke dalam empat tabung kalibrasi, disimpan di suhu kamar untuk 1,2,3 dan 4 w. pada akhir setiap periode penyimpanan, setiap tabung kocok konstan 30 kocokan/min. waktu (s) redisperse suspensi yang mengendap dicatat. Jumlah kocokan diperlukan untuk pengamatan dispersi sedimen dari dasar tabung. Sampel diamati homogenitasnya dari suspensi dan total waktu (s) dicatat untuk redisperse suspensi yang mengendap.
Tes Fitokimia yang dilakukan pada mucilago Abelmoschus esculentus menegaskan tidak adanya alkaloid, glikosida dan tanin. Pada mucilago dengan ruthenium merah, menunjukkan warna merah menunjukkan sebagai mucilago. Reagen Molisch menunjukkan adanya karbohidrat. Mucilago tidak bisa mereduksi larutan Fehling, sehingga terdeksi adanya gula. Larutan Fehling setelah hidrolisa selama 1 jam dengan terkonsentrasi asam sulfat. Mucilago pada pereaksi ninhidrin tidak memberikan warna ungu menunjukkan tidak adanya asam amino. Untuk menentukan tingkat keamanan ekstrak mucilago Abelmoschus esculentus, dilakukan studi toksisitas akut dan toksisitas kronis. Dalam studi toksisitas memperlihatkan tidak ada perubahan perilaku untuk empat jam pertama dan kematian, tidak ada sindrom beracun bahkan pada dosis berat badan 4000mg/kg tubuh setelah 24 jam menunjukkan keamanan gum. Untuk menilai kesesuaian gum dicatat profil berat badan untuk hewan selama kronis toksisitas secara berkala dari 10 d dari berat badan dari kedua hewan uji dan kontrol. Oleh karena itu disimpulkan bahwa pemberian gum mungkin tidak berpengaruh baik dari asupan makanan atau pertumbuhan. Parameter hematologi yang ditentukan pada akhir 30 juga ditemukan sebanding dengan tikus kontrol. Konsentrasi zat pensuspensi di dosis konvensional dari biasanya tidak melebihi 2% dari formulasi, kira-kira 5-10 mg/kg dosis. Oleh karena eksipien tidak mungkin memberikan efek toksik pada tubuh. Hal ini bahwa pensuspensi lebih rendah laju sedimentasinya. Untuk mengevaluasi sifat suspending agent, suspensi dengan konsentrasi parasetamol tetap namun konsentrasi bervariasi dari mucilago (1,0 sampai  4,0% b/v) serta suspending agent alami seperti tragakan dan natrium CMC. Mucilago Abelmoschus esculentus menunjukkan hasil yang sebanding dengan natrium CMC. Sedimen partikel tersebar pada tingkat yang lebih cepat di suspensi yang mengandung 1% dan 2% b/v suspending agent dan sedimentasi awal selama 20 hari pertama jauh lebih cepat daripada sesudahnya. Suspensi dengan zat pensuspensi 3% menunjukkan konstanta penurunan volume sedimentasi sampai 20 hari sedangkan penurunan itu diminimalkan setelah 25 hari. Namun suspensi dengan zat pensuspensi 4% perubahan volume sedimentasi minimum selama 45 hari penelitian. Menurut Martin dkk. volume sedimentasi hanya flokulasi kualitatif. Derajat flokulasi (β) adalah parameter yang digunakan, merupakan rasio volume sedimentasi tertinggi dalam sistem flokulasi dan deflokulasi. Perbandingan nilai β (Tabel 4) dari suspensi dengan mucilago Abelmoschus esculentus, tragakan dan  natrium CMC menunjukkan nilai yang lebih tinggi sedikit di 3 dan 4% b/v untuk musilago Abelmoschus esculentus dan tragakan. Pengamatan ini menunjukkan bahwa Abelmoschus esculentus adalah suspending agent yang lebih baik daripada Sodium CMC. Karena suspensi menghasilkan sedimen pada penyimpanan harus mudah terdispersi sehingga menjamin keseragaman dosis.Suspensi dengan 1 dan 2% b/v tragacanth  telah terbukti berlapis setelah 25 dan 35 hari masing. Menunjukkan efektivitas sebagai suspending agent pada konsentrasi ini. Reologi dari suspensi dengan Abelmoschus esculentus, gum tragakan dan natrium CMC menunjukkan bahwa suspensi yang pseudoplastik dan viskositas turun dengan peningkatan laju geser. Perubahan pH suspensi berbeda dengan persentase Abelmoschus esculentus, natrium CMC dan gum tragacanth dicatat setelah 24 dan mingguan hingga 4 w penyimpanan pada  suhu kamar. PH dari suspensi yang dibuat dengan  Abelmoschus esculentus dan gum tragakan berkisar 4,50-5,25 dan 4,10-4,45 masing-masing konsentrasi tingkat bawah pertimbangan(4% b/v),sehingga menunjukkan sifat asam dari suspensi. Variasi pH suspensi dengan Abelmoschus esculentus lebih tinggi dibandingkan dengan suspensi dengan tragakan. Perubahan pH mungkin karena hidrolisis atau dekomposisi mikroba. Dekomposisi mikroba dari suspensi dengan Abelmoschus esculentus tampaknya lebih layak diberikan karakter netral.Suspensi juga dinilai berdasarkan viskositas, laju alir dan analisis ukuran partikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viskositas dan ukuran partikel berbanding lurus dengan konsentrasi suspending agent. Semua formulasi yang diamati sesuai hukum Stoke ketika mengalami analisis ukuran partikel.

Daftar Pustaka

·        Carstensen, Jens T, Rhodes,CT. 2000. Drug Stability Principles and Practices. New York : Marcel Dekker.
·        Gennaro, Alfonso R. 2000. Remington The Sciences and Practice of Pharmacy. Philadelpia : University of  The Science.
·        Kumar, Ravi dkk. 2009. Evaluation of  Disintegrating  Properties of Abelmoschus esculentus Mucilage. USA : Int J Pharm Tech, Vol.1, No.2, pp 241-246
·        Lachman, Leon, Herbert A. Lieberman, Joseph L.Kanig.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
·        Martin, A. 2001.  Physical Pharmacy. 4th Edn. Lippincott William an Wilkins, Baltimore, USA, pp. 480-481.

2 komentar:

  1. jurnal aslinya dapet dari mana ya??? soalnya saya butuh jurnal aslinya juga...
    mohon bantuannya terima kasih :)

    BalasHapus