Senin, 24 Desember 2012

Resensi

RESENSI NOVEL


Judul : Merpati Biru
Pengarang : Achmad Munif
Penerbit : Navila
Tahun Terbit : 2003
Halaman : 294

Novel ini dikarang oleh Achmad Munif, pria kelahiran Jombang, Jawa Timur ini adalah penulis yang sangat produktif.Achmad Munif memiliki latar belakang sebagai jurnalis, jebolan Fakultas Filsafat UGM dan aktifis kelompok diskusi ini mampu dengan akrab menyapa pembaca dengan tulisan-tulisannya. Dia mampu mengangkat realita yang ada disekelilingnya tanpa berpretensi untuk mengangkat diri sebagai yang paling benar.Realita kehidupan diangkat dengan apa adanya, dibiarkan mengalir sendiri dengan segala pernik kehidupan dan watak manusia yang melingkupinya.Pertarungan antara baik dan jahat, bermoral dan amoral, idealis dan pragmatis dianggap sebagai sebuah kenyataan.Dalam seluruh karyanya, Achmad Munif dapat menarik simpati dari pembaca terhadap tokoh ceritanya.
Novel ini dikemas dengan cover biru muda yang anggun sesuai dengan judul novelnya yaitu Merpati Biru.Dalam novel ini dikisahkan tentang kehidupan seorang mahasiswi yang kuliah nyambi menjadi seorang merpati biru.Mahasiswa itu bernama Ken Ratri.Dia terjebak menjadi pelacur karena masalah ekonomi yang menimpanya.Dan sebenarnya dia juga tidak pernah berpikiran untuk menjadi seorang pelacur, akan tetapi apa daya masalah ekonomi yang membuatnya seperti itu.Dan Tak seorangpun yang tahu bahwa dia adalah seorang pelacur, bahkan adiknya sendiri tidak tahu akan hal ini.Tapi rahasia yang disimpan rapat ini akhirnya terungkap juga dan menjadi perdebatan di kampusnya.Dengan terungkapnya hal itu, dunia mahasiswa yang penuh dengan idealisme seakan terusik dan tercoreng.Novel ini juga menghadirkan pertanyaan apakah kampus memang sedemikian sakral sehingga tidak bisa menerima fakta sosial yang ada di lingkungannya sendiri atau kampus bisa secara jernih membedakan antara institusi pendidikan dengan perilaku orang-orang yang berada di dalamnya.
Dalam novel ini penulis menampilkan semua karakter manusia yang tidak selamanya orang yang buruk akan terus menjadi buruk, suatu saat bisa menjadi baik.Dan baik buruk manusia bersifat relatif.Penulis juga menerjemahkan idealisme.Bahwa idealisme bukan sikap yang selau menggantung di awan tanpa pernah mau memahami realita yang ada di lingkungan. Idealisme adalah sikap yang membumi, menyadari realitas yang ada dan berusaha memperbaiki atau menjadi lebih baik lagi.Kekurangan novel ini terletak pada akhir cerita yaitu endingnya tidak diceritakan apakah tokoh Ken akan menjadi baik seterusnya atau tidak dan tidak disebutkan juga apakah Ken hidup bahagia bersama orang yang dicintainya yaitu Satrio.Selain itu bahasanya terkadang sulit untuk dipahami.
Novel ini layak dibaca oleh semua kalangan, karena novel ini mengangkat realita dalam kehidupan.Ceritanya juga sangat mendalam maknanya dan penuh dengan teka-teki yang membuat pembaca menjadi penasaran sehingga sangat menarik untuk dibaca sampai akhir cerita.


Resentator:


DEWI GAYATRI W.
XII IPA 1 / 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar